My Lovely College

My Lovely College

Senin, 31 Maret 2008

Tugas Penelitian Ayam Kampus

1. Latar belakang masalah


Dewasa ini istilah ayam kampus sudah tidak asing lagi dikalangan mahasiswa


maupun masyarakat. Hal ini disebabkan antara lain :




  1. Kurangnya pendidikan agama


  2. Kurangnya pendidikan moral


  3. Faktor Ekonomi


  4. Lingkungan dan pergaulan


  5. Kurangnya perhatian orang tua


2. Identifikasi masalah



Untuk mengetahui dari dekat dan lebih jelas maka dilakukan investigasi untuk menguak sisi sisi kehidupan mereka. Adapun identifikasi masalah antara lain :





  1. Dengan adanya ayam kampus membuat terganggunya mahasiswa yg lain


  2. Rusaknya citra kampus dengan adanya ayam kampus karena beroperasi di lingkungan kampus.


  3. Turunnya prestasi belajar mahasiswa.


3. Batasan Masalah



Untuk menghemat waktu,dana dan tenaga maka kami membatasi dengan meneliti di beberapa universitas di kota Medan antara lain UISU , USU dan Harapan.



4. Rumusan Masalah.



Ada beberapa permasalahan pada ayam kampus antara lain sebagai berikut :





  1. Bagaimana hubungan persepsi dengan sikap mahasiswa terhadap ayam kampus


  2. Bagaimana persepsi terhadap ayam kampus


  3. Bagaimana sikap mahasiswa terhadap ayam kampus


5. Tujuan penelitian



Untuk mengetahui hubungan persepsi aam kampus terhadap sikap mahasiswa, maka tujuan penelitian dilakukan :





  1. Untuk mengetahui Bagaimana sikap mahasiswa terhadap ayam kampus


  2. Untuk mengetahui persepsi terhadap ayam kampus


  3. Untuk mengetahui hubungan persepsi dengan sikap mahasiswa terhadap ayam kampus.




6. Manfaat Penelitian



Adapun manfaat penelitian sebagai berikut :





  1. Bagi mahasiswa


Agar aktifitas mahasiswa tidak terganggu dan tidak terpengaruh dengan adanya ayam kampus dilingkungan kampus serta terciptanya kenyamanan belajar dilingkungan kampus.



2. Bagi Ayam Kampus

Agar ayam kampus tidak mengganggu aktifitas mahasiswa dikampus dan tidak merusak citra kampus.











Senin, 24 Maret 2008

Artikel ayam kampus 2

» CLOSE PAGE PRINT NEWS «
Lintas Berita Pendidikan
Tekan Pengangguran, Pemerintah Dorong SMK GUNA menekan angka pengangguran, pemerintah kini terus berupaya mendorong pertumbuhan Sekolah Menengah Kejuruan di daerah. Keberadaan SMK dinilai jauh lebih efektif memperbesar peluang penyerapan tenaga kerja, khususnya pasar di luar negeri.“Kami sudah sepakat dengan Mendiknas bahwa pertumbuhan SMK harus terus didorong. Saat ini, kondisi objektif masih 70 : 30 (antara SMA dan SMK). Pada tahun 2009, persentase diharapkan bisa naik mencapai 60 : 40, meski tetap diupayakan ke arah ideal yaitu 50 : 50. Untuk itu, izin pendirian SMA mulai ditiadakan tahun 2007, kecuali di daerah pelosok semacam Papua,” ujar Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno, Minggu (19/11).Menurut Erman, pihaknya saat ini terus mengintensifkan kegiatan dengan Depdiknas, khususnya menyangkut informasi dan kebutuhan pasar kerja lulusan SMK baik di tingkat domestik maupun internasional. Dengan pertumbuhan SMK, target penyerapan tenaga kerja di luar negeri diharapkan bisa tumbuh 100 persen, dari biasanya 450.000- 500.000 menjadi 1 juta per tahun. “Kebutuhan pasar lulusan SMK di luar negeri masih luas. Daerah tujuan utama, antara lain Timur Tengah, Asia Pasifik, Amerika, hingga Eropa. Sementara, kebutuhan pasarnya bervariasi mulai bidang elektronik, industri, perminyakan, perawat, hingga perhotelan dan pariwisata,” ujarnya kemudian. Dengan beban pengangguran yang tinggi saat ini, yaitu 11,1 juta orang dimana 36,21 persen (3,91 juta) diantaranya merupakan lulusan SMA, keberadaan SMK diharapkan bisa efektif menekan laju pengangguran. Di lain pihak, penyerapan tenaga kerja tahunan masih rendah, yaitu baru 700.000 dari 2,5 juta angkatan kerja baru per tahun.ORIENTASI KOMPETENSI“Untuk itu, pendidikan kita semestinya jangan hanya output oriented, tetapi semestinya competency oriented. Untuk itu, diperlukan pola link and match di lembaga pendidikan. Di sinilah perlunya peranan pemerintah sebagai fasilitator. Di antaranya, ya mendorong pertumbuhan SMK ini,” tambahnya kemudian.Terkait persoalan kompetensi ini, guru besar Pendidikan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Janulis Purba dalam orasinya pekan lalu menekankan pentingnya perubahan paradigma pendidikan yang berbasis pemecahan masalah.(kcm) Ayam Kampung vs “Ayam Kampus”APA benar ayam kampung dagingnya lebih enak dari ayam ras, saya belum pernah cari tahu. Yang saya tahu, kedua jenis daging itu, kalau dinikmati wah, enak benar, apalagi kalau di-panggang. Lain halnya dengan Ayam Kampus, sebuah istilah bagi seorang mahasiswa yang berprofesi rangkap sebagai “wanita panggilan” (pelacur), dagingnya saya belum pernah nikmati, apakah enak atau tidak, apalagi saya dengar harga dagingnya “sekilo”, bisa ratusan sampai jutaan rupiah. Wah, mahal benar, bagaimana ya cara panggangnya?Membicarakan ini sebenarnya sama dengan membicarakan diri kita sendiri, tetapi sesungguhnya inilah realita yang membutuhkan perhatian serius dari semua pihak. Ayam kampus bukan isu belaka, tetapi ini sebuah fenomena yang sedang berlangsung dan kapan dia berhenti tergantung dari semua kita yang berkompoten untuk menga-tasinya. Memang ayam kampus ini tidak dijual di kampus-kampus, tetapi mereka dijual di luar kampus, sama seperti restoran yang men-jual ayam kampung panggang, demikian juga mereka dapat saja dibeli di tempat-tempat tertentu jika ada yang berminat yang lagi “gatal dan galojoh” untuk menikmatinya.Sayang fenomena itu, kurang mejadi perhatian bagi para “pe-tinggi” kampus, memberi perhatian pada pembinaan-pembinaan/ pengajaran agama dan etika serta budi pekerti bagi anak didiknya. Memang benar, tanggung jawab utama ada dalam keluarga dan pendidikan agama di gereja, masjid, pura klenteng, tapi bukankah “dagangan itu” tidak laku dalam ruang-ruang suci ibadat.Kalau begitu, mari kita mau du-duk bersama merenung dan bertindak, tidak usah berpolemik, tapi bebaskan kampus dari segala macam penyakit masyarakat, apalagi bisnis-bisnis dagingan yang dapat membawa malapetaka bukan saja bagi generasi muda sekarang ini, tapi terus berlanjut sampai kaum keturunan kita. Bisnis dagingan ini bukan saja bertentangan dengan nilai-nilai agama, tapi sangat berisiko pada jalannya perkembangbiakan anak bangsa, karena kalau terkena penyakit kelamin/ HIV/AIDS, pe-nularannya berlangsung bagaikan gunung es atau sistem pelipat-gandaan bisnis MLM. Kalau dihitung-hitung, bahaya virus flu burung yang dapat menimpa ayam kampung kita, tidak sebanding bahaya flu penyakit kelamin/ HIV/AIDS yang dengan mudah dapat menyebar melalui nikmatnya santapan daging para ayam kampus yang sudah tertular dan handai tolannya para PSK dan orang-orang yang melakukan seks bebas. Kalau kita tidak ingin musnah sebuah ge-nerasi bangsa yang cerdas, marilah kita dengan hati yang tulus terus mengkampanyekan bahaya seks bebas bagi anak bangsa, para generasi muda. Hai tante, om, oma, opa yang berprofesi sebagai germo/ calo traffiking, sayangilah anak-anakmu, keluargamu, keturunanmu. Berhentilah dari bisnis daging tersebut. Itu berbahaya sekali. Jangan hanya mencari keuntungan diri sendiri, masih ada profesi lain yang jauh lebih terhormat dari pada bisnis berbahaya ini. Lebih baik terhormat berbisnis ayam kampung walaupun keun-tungannya kecil dari pada ber-bisnis ayam kampus yang me-malukan dan merusak moral anak bangsa dan memusnah-kan generasi yang cerdas. Marilah kita pagari anak-anak kita, selain ilmu dan pengeta-huan, tetapi juga nilai agama, moralitas dan etika sebagai suatu kekuatan yang bersinergis untuk melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan bermoral tinggi. Maju terus masyarakat kampus, kejarlah cita-cita setinggi gunung Klabat, demikian ingatan paman Sam tou Minahasa.(**)Penulis, Pengamat Sosial-Agama dan Dosen Fakultas teologi UKIT

Artikel ayam Kampus 1

Selasa, 30/04/2002Geliat "Ayam-Ayam" Kampus, Bagaimana Mereka Sekarang? (1)Istilah "ayam" kampus sempat populer beberapa tahun lalu. Mereka adalahmahasiswi yang terjun di dunia prostitusi. Bagaimana fenomena itu sekarang?Sepi, biasa-biasa, atau malah ramai? Berikut hasil pelacakan Jawa Pos.---------------Rizal Husein----------------Jam dinding menunjukkan pukul 23.30. Hari itu, hujan rintik-rintik mulaimembasahi kawasan Semolowaru. Tiga cewek terlihat duduk santai di depan teras,di sebuah rumah kos-kosan dua lantai. Mereka adalah Dona, Santi, dan Mila. Wajahtiga cewek rata-rata berumur 21 tahun itu lumayan cakep. Kulitnya hampir sama,kuning langsat.Ketiga mahasiwi ini kuliah di satu kampus, sebuah perguruan tinggi swasta diSurabaya. Dona dan Mila di fakultas ekonomi. Masing-masing semester VI dan IV.Sedangkan Santi di fakultas hukum, juga duduk di semester IV.Selain kuliah, ketiga cewek itu juga terjun ke dunia prostitusi.Ketika Jawa Pos mengunjungi tempat kosnya malam itu, mereka sedang duduk diteras, di depan kamar kosnya. Mereka lagi sibuk menulis sesuatu di selembarkertas putih. Di sampingnya, terdapat beberapa buku diktat kuliah. "Kami lagibikin kerpekan (contekan, Red.) untuk ujian tengah semester (UTS). Mumpung laginggak ada job. Boleh kan bikin kerpekan? Ini kan juga usaha," kata Dona membukapembicaraannya dengan Jawa Pos, sambil mengembangkan senyum genitnya.Mungkin, karena sudah terbiasa berhubungan dengan laki-laki, mereka taksungkan-sungkan dalam hal berpakaian. Ketika menerima Jawa Pos, mereka hanyamengenakan busana yang terkesan sekenanya. Dona mengenakan celana pendek ketat,dan kaos tanpa lengan yang juga ketat. Mila hanya mengenakan daster tipis,hingga BH dan celana dalamnya terlihat transparan. Sedangkan Santi mengenakankaos putih lengan pendek dan rok mini hitam."Sorry, ya cuma pakai begini. Salah sendiri datang malam-malam. Kita kan maubobok," kata Santi genit.Berapa tarif ayam-ayam kampus itu? Mereka rata-rata memasang tarif Rp 700 ribusekali kencan untuk 1,5 jam.Bagaimana cara mengajak mereka kencan? Apakah mereka juga punya broker (germo)?Ketika ditanya seperti ini, mereka terkesan tertutup. "Pokoknya kami tahunya adaorang yang menelpon di HP, kemudian mereka harus menjemput di kos-kosan.Pembayaran harus di muka," ujar Dona.Soal servis di ranjang? "Jangan khawatir. Dijamin pasti ketagihan, deh. Kamitahu kok apa yang diinginkan tamu. Pingin nyoba?," tantang Mila kepada Jawa Pos.Langganan mereka kebanyakan laki-laki yang sudah berumur. Mereka menyebutnyaom-om. "Aku lebih sreg sama om-om. Sebab, mereka sabar dan nggak pernah mintapelayanan macam-macam. Duitnya juga banyak," paparnya. "Manfaat lainnya, kalausaya butuh uang sewaktu-waktu, bisa minta sama om-om itu," sahut Mila sambilmenghisap rokok menthol-nya dalam-dalam.Jika ditelisik mengapa mereka sampai terjun ke dunia prostitusi? Kisah dan latarbelakangnya macam-macam. Misalnya Dona. Gadis asli Malang berambut sebahu itumengaku menjalani kehidupan seperti itu sejak semester II. Dia lantasmengisahkan sepenggal perjalanan hidupnya. "Saya kerja beginian setelah sayahamil, tapi pacar saya tak mau tanggung jawab. Terpaksa kandungan sayagugurkan," akunya. Sejak itu dia frustasi, dan melalui ajakan seorang teman satukos, Dona akhirnya terjun ke dunia prostitusi.Setelah menceritakan hal ini, Dona tak mau lagi melanjutkan kisahnya. "Buat apamengungkit-ungkit masa lalu," kata wanita berwajah oval ini.Bagaimana cara mengatur waktu antara melayani tamu dan kuliah? "Kami lebih sukakencan siang hari. Tamu-tamu juga lebih senang kencan siang, karena biasanya itudilakukan di sela-sela mereka bekerja," tutur Santi.Bagaimana jika ada ujian? "Kalau pas ujian, biasanya tamu saya suruh nunggu.Kalau saya sudah selesai, HP tamu saya missed called, kemudian mereka balikmenelpon saya. Saya kemudian dijemput," jelasnya.Dari hasil bekerja seperti itu, rata-rata tabungan mereka mencapai puluhan juta.Misalnya Dona. Wanita dengan tinggi 160 centi meter itu mengaku punya simpanandi bank sekitar Rp 35 juta. Dona juga mengaku masih mendapat kiriman dari orangtuanya. "Saya dikirimi uang setiap bulan Rp 500 ribu. Itu pun habis untuk bayarkos," ujarnya.Nggak takut kena HIV/AIDS? "Ya takut dong. Karena itu, tiap kencan, tamu harusmau pakai kondom. Kalau nggak, mendingan batal. Yang pingin booking kita masihbanyak kok, bukan cuma satu orang saja," ucap Dona.(bersambung)Rabu, 01/05/2002Geliat "Ayam-Ayam" Kampus, Bagaimana Mereka Sekarang? (2-Habis)Bersaing Ketat, Berani Tawarkan DiskonPersaingan antara sesama "ayam" kampus itu ketat. Mereka semua rata-rata masihmuda, rata-rata juga berpenampilan menarik. Karena sekadar dandan lebih cantiksaja tak cukup untuk lebih laku, maka berbagai cara lain mereka tempuh. Apasaja?Rizal HuseinSebuah mobil sedan perlahan-lahan berhenti di dekat pintu gerbang kampus dikawasan Semolowaru. Sopirnya tidak turun, mesinnya dibiarkan hidup. Tapi lampusein sebelah kiri dinyalakan.Beberapa saat kemudian, terlihat dua cewek bergegas menghampirinya. Mereka taklangsung masuk, tapi lebih dulu melongokkan wajahnya ke kaca depan mobil sebelahkiri. Kedua cewek itu lalu bercakap-cakap dengan penumpang di sedan itu. Taklama berselang, salah satu dari mereka --yang tinggi dan berambut panjang--masuk ke mobil, dan selanjutnya pergi entah ke mana.Sedangkan cewek satunya dengan langkah gontai melambaikan tangannya ke arahtukang becak yang berada di seberang jalan. Lalu, dia naik becak dan pulang ketempat kosnya di kawasan Nginden.Cewek yang naik becak itu adalah Rika (nama samaran), mahasiswi fakultasFisipol. Cewek bertinggi badan 157 cm itu sudah sekitar tujuh bulan jadi "ayam"kampus.Bagaimana debutnya dulu? "Waktu pertama kali gituan sama tamu, rasanya gimanagitu. Soalnya, biasanya cuma dengan orang yang saya kenal. Tapi, lama kelamaanjadi biasa," akunya polos.Rika ditemui Jawa Pos, di sebuah depot tak jauh dari tempat kosnya. Dia bersamapacarnya, Wiwid, yang juga satu kampus dengan Rika. Sambil ngobrol, takhenti-hentinya dia menyedot rokok putih. Sementara pacarnya yang duduk disebelahnya, cuma cengegesan. Selain pacar, Wiwid juga merangkap sebagai germoRika. Dialah yang sering mengatur jadwal kencan Rika dan tamunya.Di tengah keasyikan mengobrol, ada seorang cewek yang tiba-tiba duduk di sampingRika. Namanya, Yossy (juga nama samaran). Dia adalah teman Rika yang juga "ayam"kampus.Kalau "ayam" kampus lainnya cenderung menutup diri dalam hal gaet-menggaet temankencan, Rika dan Yossy mengaku lebih terang-terangan. Itu dibuktikan dengan apayang dilakukan Rika dengan "rekan sejawat"-nya yang berambut panjang di awaltulisan ini. Mereka terang-terangan tawar-menawar dengan seorang penumpang mobilsedan, di depan gerbang kampus sendiri.Dan menurut mereka, terang-terangan saat ini adalah cara paling efektif untukmeraih lebih banyak tamu. "Saingan banyak Mas, jadi harus pintar-pintar carigebetan (tamu, Red.)," jelas Rika, yang mengaku asal Cirebon ini.Kadang, terang-terangan seperti di atas saja tak cukup. Tak jarang, mereka nekatturun "gunung" cari tamu. Biasanya, mereka mangkal di beberapa kafe dan pub diSurabaya. Kalau ada laki-laki yang iseng menggoda, mereka sering pura-pura jualmahal. Tapi, begitu tamu menunjukkan keseriusannya untuk booking, merekalangsung ho-oh saja.Meski cukup terang-terangan dalam mencari gebetan, tapi mereka tetap tak maudisamakan dengan pekerja seks komersial (PSK) lainnya. "Kita beda dong. Meskikerjaannya gituan, kita kan mahasiswi," timpal Yossy yang punya bibir tipis ini.Jadi, menurutnya, ongkos mereka lebih tinggi.Soal tamu, mereka juga tidak pernah pilih-pilih. "Kalau kebetulan kita sreg, akujuga bisa terangsang. Sebaliknya, kalau nggak, inginnya cepat-cepat selesai,"kata Yossy lagi.Yossy lalu menceritakan pengalaman yang tidak bisa dilupakan seumur hidupnya.Yakni, ketika melayani tamu yang kebetulan punya wajah mirip ayah kandungnya."Saat itu, saya tidak percaya. Begitu melihat dia (tamu itu), saya pingin lari.Saya takut, orang itu benar-benar ayah saya. Tapi, setelah tahu dia bukan ayah,saya lega. Tapi, mainnya jadi nggak bernafsu," ujar Yossy sambil tertawaterbahak-bahak.Selain terang-terangan dan turun "gunung," Yossy dan Rika mengaku bahwa sesama"ayam" kampus kerap juga sering bersaing lewat harga. Mereka mengaku nekatbanting harga alias memberi diskon. Kalau biasanya --seperti yang ditulis JawaPos kemarin-- sekitar Rp 700 ribu untuk short time (1,5 jam), keduanya mengakuberani pasang tarif lebih murah. Sekitar Rp 500 ribu."Yang cantik dan bodinya seksi banyak. Tapi kalau nggak pinter merayu tamu,bisa-bisa kita nggak laku," terang Rika. (habis)Kisah diatas mengingatkan saya akan kisah salah satu dr kawan saya (mahasiswi)yang menjual dirinya kepada salah seorang dosen hanya demi nilai.

Minggu, 23 Maret 2008

Akhirnya Jadi Juga Blog Saya

Baru belajar bikin blog nih.. beri koment dong ya...