My Lovely College
My University
Senin, 24 Maret 2008
Artikel ayam Kampus 1
Selasa, 30/04/2002Geliat "Ayam-Ayam" Kampus, Bagaimana Mereka Sekarang? (1)Istilah "ayam" kampus sempat populer beberapa tahun lalu. Mereka adalahmahasiswi yang terjun di dunia prostitusi. Bagaimana fenomena itu sekarang?Sepi, biasa-biasa, atau malah ramai? Berikut hasil pelacakan Jawa Pos.---------------Rizal Husein----------------Jam dinding menunjukkan pukul 23.30. Hari itu, hujan rintik-rintik mulaimembasahi kawasan Semolowaru. Tiga cewek terlihat duduk santai di depan teras,di sebuah rumah kos-kosan dua lantai. Mereka adalah Dona, Santi, dan Mila. Wajahtiga cewek rata-rata berumur 21 tahun itu lumayan cakep. Kulitnya hampir sama,kuning langsat.Ketiga mahasiwi ini kuliah di satu kampus, sebuah perguruan tinggi swasta diSurabaya. Dona dan Mila di fakultas ekonomi. Masing-masing semester VI dan IV.Sedangkan Santi di fakultas hukum, juga duduk di semester IV.Selain kuliah, ketiga cewek itu juga terjun ke dunia prostitusi.Ketika Jawa Pos mengunjungi tempat kosnya malam itu, mereka sedang duduk diteras, di depan kamar kosnya. Mereka lagi sibuk menulis sesuatu di selembarkertas putih. Di sampingnya, terdapat beberapa buku diktat kuliah. "Kami lagibikin kerpekan (contekan, Red.) untuk ujian tengah semester (UTS). Mumpung laginggak ada job. Boleh kan bikin kerpekan? Ini kan juga usaha," kata Dona membukapembicaraannya dengan Jawa Pos, sambil mengembangkan senyum genitnya.Mungkin, karena sudah terbiasa berhubungan dengan laki-laki, mereka taksungkan-sungkan dalam hal berpakaian. Ketika menerima Jawa Pos, mereka hanyamengenakan busana yang terkesan sekenanya. Dona mengenakan celana pendek ketat,dan kaos tanpa lengan yang juga ketat. Mila hanya mengenakan daster tipis,hingga BH dan celana dalamnya terlihat transparan. Sedangkan Santi mengenakankaos putih lengan pendek dan rok mini hitam."Sorry, ya cuma pakai begini. Salah sendiri datang malam-malam. Kita kan maubobok," kata Santi genit.Berapa tarif ayam-ayam kampus itu? Mereka rata-rata memasang tarif Rp 700 ribusekali kencan untuk 1,5 jam.Bagaimana cara mengajak mereka kencan? Apakah mereka juga punya broker (germo)?Ketika ditanya seperti ini, mereka terkesan tertutup. "Pokoknya kami tahunya adaorang yang menelpon di HP, kemudian mereka harus menjemput di kos-kosan.Pembayaran harus di muka," ujar Dona.Soal servis di ranjang? "Jangan khawatir. Dijamin pasti ketagihan, deh. Kamitahu kok apa yang diinginkan tamu. Pingin nyoba?," tantang Mila kepada Jawa Pos.Langganan mereka kebanyakan laki-laki yang sudah berumur. Mereka menyebutnyaom-om. "Aku lebih sreg sama om-om. Sebab, mereka sabar dan nggak pernah mintapelayanan macam-macam. Duitnya juga banyak," paparnya. "Manfaat lainnya, kalausaya butuh uang sewaktu-waktu, bisa minta sama om-om itu," sahut Mila sambilmenghisap rokok menthol-nya dalam-dalam.Jika ditelisik mengapa mereka sampai terjun ke dunia prostitusi? Kisah dan latarbelakangnya macam-macam. Misalnya Dona. Gadis asli Malang berambut sebahu itumengaku menjalani kehidupan seperti itu sejak semester II. Dia lantasmengisahkan sepenggal perjalanan hidupnya. "Saya kerja beginian setelah sayahamil, tapi pacar saya tak mau tanggung jawab. Terpaksa kandungan sayagugurkan," akunya. Sejak itu dia frustasi, dan melalui ajakan seorang teman satukos, Dona akhirnya terjun ke dunia prostitusi.Setelah menceritakan hal ini, Dona tak mau lagi melanjutkan kisahnya. "Buat apamengungkit-ungkit masa lalu," kata wanita berwajah oval ini.Bagaimana cara mengatur waktu antara melayani tamu dan kuliah? "Kami lebih sukakencan siang hari. Tamu-tamu juga lebih senang kencan siang, karena biasanya itudilakukan di sela-sela mereka bekerja," tutur Santi.Bagaimana jika ada ujian? "Kalau pas ujian, biasanya tamu saya suruh nunggu.Kalau saya sudah selesai, HP tamu saya missed called, kemudian mereka balikmenelpon saya. Saya kemudian dijemput," jelasnya.Dari hasil bekerja seperti itu, rata-rata tabungan mereka mencapai puluhan juta.Misalnya Dona. Wanita dengan tinggi 160 centi meter itu mengaku punya simpanandi bank sekitar Rp 35 juta. Dona juga mengaku masih mendapat kiriman dari orangtuanya. "Saya dikirimi uang setiap bulan Rp 500 ribu. Itu pun habis untuk bayarkos," ujarnya.Nggak takut kena HIV/AIDS? "Ya takut dong. Karena itu, tiap kencan, tamu harusmau pakai kondom. Kalau nggak, mendingan batal. Yang pingin booking kita masihbanyak kok, bukan cuma satu orang saja," ucap Dona.(bersambung)Rabu, 01/05/2002Geliat "Ayam-Ayam" Kampus, Bagaimana Mereka Sekarang? (2-Habis)Bersaing Ketat, Berani Tawarkan DiskonPersaingan antara sesama "ayam" kampus itu ketat. Mereka semua rata-rata masihmuda, rata-rata juga berpenampilan menarik. Karena sekadar dandan lebih cantiksaja tak cukup untuk lebih laku, maka berbagai cara lain mereka tempuh. Apasaja?Rizal HuseinSebuah mobil sedan perlahan-lahan berhenti di dekat pintu gerbang kampus dikawasan Semolowaru. Sopirnya tidak turun, mesinnya dibiarkan hidup. Tapi lampusein sebelah kiri dinyalakan.Beberapa saat kemudian, terlihat dua cewek bergegas menghampirinya. Mereka taklangsung masuk, tapi lebih dulu melongokkan wajahnya ke kaca depan mobil sebelahkiri. Kedua cewek itu lalu bercakap-cakap dengan penumpang di sedan itu. Taklama berselang, salah satu dari mereka --yang tinggi dan berambut panjang--masuk ke mobil, dan selanjutnya pergi entah ke mana.Sedangkan cewek satunya dengan langkah gontai melambaikan tangannya ke arahtukang becak yang berada di seberang jalan. Lalu, dia naik becak dan pulang ketempat kosnya di kawasan Nginden.Cewek yang naik becak itu adalah Rika (nama samaran), mahasiswi fakultasFisipol. Cewek bertinggi badan 157 cm itu sudah sekitar tujuh bulan jadi "ayam"kampus.Bagaimana debutnya dulu? "Waktu pertama kali gituan sama tamu, rasanya gimanagitu. Soalnya, biasanya cuma dengan orang yang saya kenal. Tapi, lama kelamaanjadi biasa," akunya polos.Rika ditemui Jawa Pos, di sebuah depot tak jauh dari tempat kosnya. Dia bersamapacarnya, Wiwid, yang juga satu kampus dengan Rika. Sambil ngobrol, takhenti-hentinya dia menyedot rokok putih. Sementara pacarnya yang duduk disebelahnya, cuma cengegesan. Selain pacar, Wiwid juga merangkap sebagai germoRika. Dialah yang sering mengatur jadwal kencan Rika dan tamunya.Di tengah keasyikan mengobrol, ada seorang cewek yang tiba-tiba duduk di sampingRika. Namanya, Yossy (juga nama samaran). Dia adalah teman Rika yang juga "ayam"kampus.Kalau "ayam" kampus lainnya cenderung menutup diri dalam hal gaet-menggaet temankencan, Rika dan Yossy mengaku lebih terang-terangan. Itu dibuktikan dengan apayang dilakukan Rika dengan "rekan sejawat"-nya yang berambut panjang di awaltulisan ini. Mereka terang-terangan tawar-menawar dengan seorang penumpang mobilsedan, di depan gerbang kampus sendiri.Dan menurut mereka, terang-terangan saat ini adalah cara paling efektif untukmeraih lebih banyak tamu. "Saingan banyak Mas, jadi harus pintar-pintar carigebetan (tamu, Red.)," jelas Rika, yang mengaku asal Cirebon ini.Kadang, terang-terangan seperti di atas saja tak cukup. Tak jarang, mereka nekatturun "gunung" cari tamu. Biasanya, mereka mangkal di beberapa kafe dan pub diSurabaya. Kalau ada laki-laki yang iseng menggoda, mereka sering pura-pura jualmahal. Tapi, begitu tamu menunjukkan keseriusannya untuk booking, merekalangsung ho-oh saja.Meski cukup terang-terangan dalam mencari gebetan, tapi mereka tetap tak maudisamakan dengan pekerja seks komersial (PSK) lainnya. "Kita beda dong. Meskikerjaannya gituan, kita kan mahasiswi," timpal Yossy yang punya bibir tipis ini.Jadi, menurutnya, ongkos mereka lebih tinggi.Soal tamu, mereka juga tidak pernah pilih-pilih. "Kalau kebetulan kita sreg, akujuga bisa terangsang. Sebaliknya, kalau nggak, inginnya cepat-cepat selesai,"kata Yossy lagi.Yossy lalu menceritakan pengalaman yang tidak bisa dilupakan seumur hidupnya.Yakni, ketika melayani tamu yang kebetulan punya wajah mirip ayah kandungnya."Saat itu, saya tidak percaya. Begitu melihat dia (tamu itu), saya pingin lari.Saya takut, orang itu benar-benar ayah saya. Tapi, setelah tahu dia bukan ayah,saya lega. Tapi, mainnya jadi nggak bernafsu," ujar Yossy sambil tertawaterbahak-bahak.Selain terang-terangan dan turun "gunung," Yossy dan Rika mengaku bahwa sesama"ayam" kampus kerap juga sering bersaing lewat harga. Mereka mengaku nekatbanting harga alias memberi diskon. Kalau biasanya --seperti yang ditulis JawaPos kemarin-- sekitar Rp 700 ribu untuk short time (1,5 jam), keduanya mengakuberani pasang tarif lebih murah. Sekitar Rp 500 ribu."Yang cantik dan bodinya seksi banyak. Tapi kalau nggak pinter merayu tamu,bisa-bisa kita nggak laku," terang Rika. (habis)Kisah diatas mengingatkan saya akan kisah salah satu dr kawan saya (mahasiswi)yang menjual dirinya kepada salah seorang dosen hanya demi nilai.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar